Navbar

Drop Down MenusCSS Drop Down MenuPure CSS Dropdown Menu

Thursday, January 12, 2012

Kisah Dingin di Pulau Saronde

Ini kisah dingin di suatu pulau tepencil dan gak sama kaya kisah kasih di sekolah yang lagunya kalian semua sering dengarkan.Oya, mungkin kalian bingung siapa sajakah makhluk makhluk yang ada di foto yang gua muat, tenang aja itu bukan makhluk penampakan penjaga Pulau Saronde yang gak sengaja eksis terfoto sama kamera, itu masih sebangsa sama gua kok, Homo Sapiens. Oke, gua bakalin kenalin kalian semua satu persatu makhluk makhluk di foto itu dan kupas seluk beluk makhluk makhluk di samping setajam gergaji. kita mulai dari yang paling kiri, namanya kika tapi sebut saja inem, ia adalah makhluk yang berasal dari palu, sebelah kanannya adalah asti tapi kita sebut saja tukiyem, dia ini yang punya monas, ke kanan sedikit kita akan menemukan makhluk bernama ammah, tapi lebih enak kalo kita sebut mumun, ia adalah makhluk keturunan daeng dan karaeng (makassar maksudnya!), dan yang paling kiri ini adalah makhluk yang cukup terkenal di dunia kemakhlukan, ia adalah zein tapi menurut gua kalian panggil aja surti, ia adalah makhluk asli keturunan bumi serambi madinah dan ia dapat berkomunikasi dengan semua makhluk yang ada di pulau itu, emang edan!

  well, kita mulai saja kisah dingin ini. coba kalian perhatiin foto ini baik baik, kalian seharusnya melihat rintik rintik hujan, ttapi kalau kalian belum bisa melihatnya silahkan ulangi pas malam jum`at kliwon saat bulan purnama, dan sebelumnya kalian harus mandi kembang 7 rupa ( lagi lagi, lebay...). kalau kalian belum bisa melihat rintikan hujan atau suasana hujan kalian bisa melihat ekspressi keempat makhluk diatas. cuaca saat itu memang dingin banget, selain dingin juga sedikit mencekam, nah loh kok bisa ya? soalnya kalau kalian pergi ke pantainya yang gak jauh dari ditu ya paling paling lamanya kayak kalian semua pergi ke kamar mandi dari kamar kalian sambil niruin gaya suster ngesot. itu awan serem hitam banget, gua selalu berdoa itu awan bukan pertanda bakal ada tsunami karena gua bakal nyesel banget gara gara enggak bawa papan selancar, kapan lagi coba main selancar diatas ombak setinggi 20 meter, pasti X-Treme banget. Udara disana saat itu mungkin kalo diukur pakai termometer menunjukan suhu air yang cukup untuk dipakai minum nutri sari. Apesnya semua pakaian sudah basah di siram air hujan ketika kami semua dalam pejalanan menuju pulau ini. Sebenarnya saat begini ini emang cocok buat makan mie instan spesial edisi, komplit dengan ayam, cabai, telur, nasi kalau perlu. Saat itu semua butuh kehangatan ( jangan pikir yang macam macam ya!). tapi buat kami semua dinginnya pulau saronde adalah kebahagiaan bbuat kami semua, karena merupakan paket bonus wisata di pulau saronde.
    walaupun cuaca saat itu dingin, tapi kami semua masih semangat untuk beraktifitas dan aktifitas yang paling disenangi adalah eksis bareng didepan foto, dan salah empat tersangka utamanya adalah makhluk makhluk difoto itu. selain asyik bernarsis ria di depan kamera, aktifitas pamungkas yang tak akan terlewatkan dalam kondisi itu pun tak terlewatkan oleh kami, ini aktifitas yang emang secara alami akan dilakukan oleh tubuh kita sekuat apapun itu dalam kondisi ini, biar kata kalian semua ngaku badannya berotot sampai sampai mungkin kalau otot kalian ditimbang seberat anak kecil usia 7 tahun tetep aja deh kalian bakal melakukan aktifitas ini, apalagi kalau bukan GEMETERAN. Gemeteran enggak sama kayak merinding loh, kalo gemeteran itu getaran tubuh kalian lebih Xtreme tapi enggak se Xtreme gempa bumi di aceh kok. Kami semua dengan senang hati merasakan dan membiarkan tubuh kami berguncang secara otomatis kayak orang lagi dipijit pake mesin penggetar. Walaupun badan sudah bergetar hebat dan mungkin bisa sama kaya getaran gempa bumi di jogjakarta tapi kami semua tetap pede menantang hujan. Jauh jauh ke saronde masa cuma diem di bawah saung, menyalakan korek sambil berharap korek itu bakal berubah jadi makanan yang enak (nah kalau begini sudah mirip cerita gadis penjual korek api dong). Setelah puas berhujan hujanan ria (kok nama ria terus ya?), kami pun segera berubah jadi monster pemeras air, karena kami harus memeras air dibaju kami supaya enggak terlalu dingin. Gayanya aneh aneh deh, ada yang matanya langsung berubah jadi putih (wah ini sih bukan berubah tapi mampus), pokoknya walaupun berbeda beda caranya tapi satu tujuannya, hilangkan kadar air di baju kami. cuaca di pulau itu tidak mengalami perubahan yang signifikan tetapi fluktuatif kayak harga dolar yang selalu di cemaskan sama setiap pedagang elektronik. kalau dollar turun pembeli senang begitu juga kalau hujan reda kami senang, kalau dollar naik pembeli cemas seperti kalau hujan turun kamipun cemas. hujan dan dolar memang terdapat persamaan.

No comments:

Post a Comment